Kepala Eksekutif Hong Kong, John Lee, mengumumkan pembentukan komite independen untuk menyelidiki kebakaran besar di apartemen Wang Fuk Court yang menewaskan 151 orang.

“Saya akan membentuk komite independen untuk menjalankan peninjauan menyeluruh dan komprehensif guna mereformasi sistem kerja konstruksi dan mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang,” ujar John dalam konferensi pers di Hong Kong.

Komite tersebut akan dipimpin oleh seorang hakim. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penyelidikan dilakukan secara objektif dan transparan. Dalam pernyataannya, John menekankan pentingnya menemukan akar masalah dari kejadian ini agar tidak terjadi lagi di masa depan.

Sementara itu, Sekretaris Utama Administrasi Eric Chan Kwok-ki mengungkapkan bahwa polisi telah mengumpulkan sampel jaring perancah (scaffold netting) dari 20 lokasi di apartemen Wang Fuk Court. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 7 sampel dari gedung Wang Tai House, Wang Tao House, Wang Yan House, dan Wang Chi House tidak memenuhi standar tahan api.



Menurut laporan dari The Standard, Menteri Keamanan Hong Kong Chris Tang Ping-keung menyebutkan bahwa meluasnya kobaran api tidak biasa. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh jaring perancah yang tidak tahan api serta bahan-bahan lain yang mudah terbakar seperti panel busa.

Tang menambahkan bahwa kontraktor diduga sengaja menggunakan material yang lebih murah dan tidak tahan api di wilayah yang sulit dijangkau. Di wilayah yang mudah diakses, mereka menggunakan jaring dengan standar yang sesuai. Hal ini menunjukkan adanya praktik tidak etis dalam proses konstruksi.

Selain itu, Komisi Independen Antikorupsi (ICAC) mengungkapkan bahwa telah menangkap 8 orang terkait kebakaran hebat tersebut. Mereka termasuk dua direktur dan dua manajer proyek dari firma konsultan proyek renovasi apartemen Wang Fuk Court, tiga subkontraktor, serta seorang perantara. Penyelidik ICAC juga telah menyita dokumen kerja dan catatan bank dari 13 lokasi.

Di sisi lain, kepolisian Hong Kong telah menangkap tiga orang atas dugaan pembunuhan sebagai bagian dari penyelidikan mereka.

Hingga saat ini, jumlah korban tewas mencapai 151 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 orang masih dalam proses identifikasi. Selain itu, ada sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sektor domestik dan meninggal dalam insiden tersebut.

Beberapa poin penting yang muncul dari penyelidikan ini antara lain:

Adanya dugaan pelanggaran standar keselamatan konstruksi.

Penggunaan material yang tidak sesuai dengan regulasi di area tertentu.

Keterlibatan pihak-pihak terkait dalam praktik tidak etis.

Kebutuhan untuk melakukan reformasi sistem kerja konstruksi.

Penyelidikan ini diharapkan dapat memberikan jawaban yang jelas bagi keluarga korban dan masyarakat luas. Selain itu, hasil penyelidikan juga akan menjadi dasar untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.