Banjir Bandang Menghancurkan Sekolah di Aceh Tengah
Hujan deras yang turun sejak pagi hari mengakibatkan banjir bandang yang menghancurkan sebagian besar bangunan SD Negeri 11 Pegasing di Kampung Tebuk, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Air bah yang datang tanpa ampun membawa kayu-kayu gelondongan dan lumpur dengan arus yang sangat kuat.
Dalam waktu singkat, sebagian bangunan sekolah mulai rusak. Anak-anak yang sedang bersiap berangkat ke sekolah terpaksa membatalkan rencana mereka. Air terus meninggi hingga menghancurkan perumahan guru dan toilet sekolah. Kepanikan melanda warga setempat yang bergegas menyelamatkan diri dan barang-barang penting.
Laporan tentang bencana ini cepat menyebar dan sampai ke Camat, Polsek, serta Koramil Pegasing. Tak lama kemudian, anggota DPRD Aceh Tengah, Hasbullah, datang meninjau lokasi. Disusul oleh Wakil Bupati Aceh Tengah dan Plt Kepala Dinas Pendidikan. Mereka berada di lokasi hingga siang hari sebelum kembali saat waktu salat Zuhur tiba.
Di tengah kekacauan itu, ada kisah yang menggetarkan hati. Seorang guru bernama Wanida, yang tinggal di lingkungan sekolah, terpaksa mengungsi bersama suaminya. Lumpur sudah setinggi dua meter memasuki rumah dinasnya. Kondisinya sangat rentan karena baru saja pulih dari serangan stroke. Dengan bantuan masyarakat sekitar, ia diselamatkan dari kepungan lumpur.
Seorang penjaga sekolah, Ujang, juga terdampak banjir. Di sekitar sekolah, sedikitnya 24 rumah warga terendam lumpur dan mengalami kerusakan berat.
Banjir Bandang Kembali Menyerang
Pada hari yang sama, sekitar pukul 16.09 hingga 23.00 WIB, banjir bandang kembali datang kali ini jauh lebih dahsyat. Bangunan sekolah tak lagi mampu bertahan. Kantor kepala sekolah, ruang dewan guru, ruang belajar kelas 1 hingga kelas 5, toilet, dan laboratorium semuanya hanyut disapu banjir. Bukan hanya kayu gelondongan, tetapi juga batu-batu besar menghantam bangunan sekolah.
Halaman sekolah tertutup total oleh lumpur dengan ketebalan mencapai empat meter. Sekolah itu kini nyaris tak bersisa, yang tertinggal hanya kenangan dan puing-puing.
Namun ditengah kehancuran, harapan belum sepenuhnya padam. Yusrizal SPd, Kepala SD Negeri 11 Pegasing, mengatakan, “Sistem pendidikan tidak boleh berhenti.” Bersama aparat Kampung Tebuk, ia mencari jalan keluar. Ia memohon agar sekolah darurat bisa didirikan, memanfaatkan aula desa, meskipun kecil dan terbatas.
“Alhamdulillah, usulan ini disetujui oleh aparat kampung,” katanya. Saat ini, 120 murid SD Negeri 11 Pegasing kehilangan sekolah mereka. Sekitar 30 anak tidak lagi memiliki pakaian sekolah semuanya hanyut terbawa banjir.
Syukurnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun luka batin, trauma, dan kehilangan masih membekas dalam.
Yusrizal memohon kepada BNPB untuk membantu dua unit tenda sebagai ruang belajar sementara. Ini bukan sekadar kisah tentang bangunan sekolah yang roboh. Ini adalah kisah tentang anak-anak yang ingin tetap belajar, tentang guru-guru yang tak menyerah, dan tentang masyarakat kecil yang bertahan di tengah bencana.
Uluran tangan kita hari ini adalah jembatan bagi masa depan mereka. Karena pendidikan tidak boleh hanyut bersama banjir.

Tinggalkan Balasan