Pengalaman Mendaki Gunung Merbabu di Momen Libur Natal dan Tahun Baru

Pada hari Kamis (25/12/2025), suasana Base Camp Thekelan di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, terlihat lebih ramai dari biasanya. Para pendaki berlalu lalang, sibuk memeriksa kembali perlengkapan yang mereka bawa. Tenda, matras, jaket tebal, logistik, hingga jas hujan yang disusun rapi menjadi barang wajib sebelum memulai perjalanan menuju jalur pendakian Gunung Merbabu.

Di antara keramaian tersebut, Salsa tampak sesekali tersenyum gugup. Ia adalah pendaki asal Cibinong yang baru saja mengambil langkah pertamanya untuk mendaki Gunung Merbabu. Bersama enam temannya, ia memanfaatkan libur kerja untuk menapaki salah satu gunung favorit di Jawa Tengah.

“Kami datang bertujuh dari Cibinong. Rencananya kami akan naik gunung selama dua hari satu malam. Kami memilih Merbabu karena view-nya bagus dan sepertinya mantap,” ujar Salsa.

Rasa penasaran menjadi alasan utama Salsa dan rombongannya. Sebelum berangkat, dia mengaku telah melakukan persiapan fisik sederhana, mulai dari olahraga hingga tracking ringan. “Tracking ringan-ringan sudah kemarin,” tambahnya.

Namun, tingginya minat pendaki di momen libur Natal dan Tahun Baru membuat jalur pendakian Gunung Merbabu melalui Thekelan resmi ditutup sementara. Kuota pendakian telah penuh hingga akhir Desember 2025.

Pengelola Wisata Dusun Thekelan, Sudiyono, menjelaskan bahwa sejak sebelum libur Natal, jumlah pendaki masih relatif normal, berkisar 52 hingga 53 orang per hari. Namun, setelah memasuki libur akhir tahun, terjadi lonjakan signifikan.

“Sejak tanggal 22 sampai 31 Desember ini sudah full semua. Kuota harian 118 orang per hari sudah habis,” kata Sudiyono saat ditemui di Base Camp Thekelan.

Kuota tersebut merupakan ketentuan dari Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM), yang saat ini membatasi jumlah pendaki hanya sekitar 30 persen dari kapasitas normal, menyusul pemeliharaan jalur pendakian. Seluruh pendaki diwajibkan mendaftar melalui sistem booking online.

Selain mengatur jumlah pendaki, pengelola juga memperketat pemeriksaan perlengkapan, terutama karena kondisi cuaca yang masih didominasi hujan.

“Kami mewajibkan pendaki membawa jas hujan dan logistik yang cukup. Cuaca di atas gunung tidak menentu, jadi pengecekan kami lakukan lebih kritis,” tegas Sudiyono.

Tak hanya itu, setiap pendaki juga mendapatkan pengarahan terkait aturan dan larangan selama berada di kawasan gunung, termasuk kewajiban membawa kembali sampah turun dari gunung.

Saat ini, TNGM membuka tiga jalur pendakian resmi menuju puncak Gunung Merbabu, yakni jalur Thekelan di Kabupaten Semarang, serta jalur Suwanting dan Wekas di Kabupaten Magelang. Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut. Puncaknya berada di wilayah Kabupaten Magelang, dengan lereng yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang. Gunung tersebut dikenal dengan panorama savana luas dan pemandangan Gunung Merapi yang berdiri gagah di sisi selatan.

Meski pendakian kembali dibuka sejak 10 Desember 2025 dengan kuota terbatas, antusiasme pendaki tak surut. Jalur Thekelan, yang dikenal sebagai jalur pendakian tertua di Gunung Merbabu, kembali menjadi favorit, terutama di penghujung tahun.

Bagi pendaki yang belum kebagian kuota, pengelola mengimbau untuk menunda rencana dan selalu memantau informasi resmi. Sebab, di balik indahnya panorama Merbabu, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.