Achmad Firdaus

Mahasiswa Doktor Hubungan Internasional dari Universitas Persahabatan Rakyat Rusia

Membatasimasa jabatan kepemimpinan universitas dalam satu periode, meskipun didasarkan pada idealisme regenerasi yang mulia, seringkali gagal memahami skala, kedalaman, dan momentum transformasi historis yang dialami Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) seperti Unhas.

Sebuah transformasi sejati bukanlah lari cepat empat tahun yang dapat diselesaikan di garis.mulaikepemimpinan, tetapi perahu layar samudra besar menuju puncak peradaban maritim yang menuntut kapten untuk mengawal hingga pelabuhan kejayaan.

Sebagai kapten yang handal di Unhas selama masa awal, kemampuannya harus diukur bukan dari lamanya masa jabatan yang telah dilalui, melainkan dari keberaniannya dalam menanamkan fondasi kualitas berstandar global di atas struktur lama yang rapuh. Tugas rumit ini membutuhkan kepemimpinan yang berintegritas, visioner, dan teruji di bawah badai.

Mengganti pemimpin saat ini sama artinya dengan meruntuhkan fondasi yang baru saja dibangun dan memulai siklus kegagalan dari awal.

Jika diukur dengan metrik akademik dan tata kelola universitas kelas dunia, capaian di bawah kepemimpinan yang visioner menunjukkan bahwa beliau telah berhasil mengubah potensi maritim Unhas menjadi kinerja yang terukur, membungkam keraguan akan stagnasi. Ini adalah fondasi yang dibangun dengan besi dan baja, yang momentumnya tidak boleh dipatahkan.

Bukti nyata dapat dilihat dari Transformasi Global Visibility dan Reputasi Riset: Kenaikan peringkat WCU Unhas (seperti QS, THE, atau Scimago) bukanlah kenaikan nominal semata.

Ini adalah hasil dari kebijakan peningkatan signifikan publikasi internasional di jurnal-jurnal kuartil teratas dan akselerasi mobilitas mahasiswa dan dosen, sebuah indikasi bahwa Unhas kini tidak sekadar menulis, tetapi menciptakan ilmu pengetahuan berkelas dunia yang diakui dan dikutip secara global.

Selanjutnya, kepemimpinan ini telah memanfaatkan warisan pribadi untuk membuka pintu kolaborasi tingkat atas yang sangat eksklusif, menghasilkan Program Derajat Bersama internasional dan Penelitian Bersama mendalam di bidang unggulan seperti ekologi laut dan kesehatan tropis. Kemitraan ini secara langsung menempatkan Unhas dalam peta riset dunia, alih-alih hanya menjadi penonton.

Riset unggulan Unhas tidak lagi sporadis dari tiga pilar Maritim, Kesehatan Tropis, dan Kebijakan Regional diperkuat melalui penataan ulang Pusat-Pusat Studi dan pengintegrasian fungsi riset di Rumah Sakit Pendidikan Unhas sebuah langkah krusial dalam hilirisasi ilmu pengetahuan yang terikat pada janji untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat Indonesia Timur.

Di sisi Kualitas Tata Kelola dan Integritas Digital, Unhas telah melakukan Akselerasi Digital yang radikal.

Dengan keberanian untuk mengupas birokrasi analog, sistem berbasis kertas yang membatasi telah digantikan dengan ekosistem digital yang mulus.

Transformasi ini adalah penataan integritas, membuat layanan akademik dan administrasi menjadi efisien, bertanggung jawab, dan bebas dari celah korupsi, yang secara fundamental mengubah citra Unhas menjadi kampus yang mengelola dirinya secara modern dan transparan.

Tidak kalah penting, Unhas telah menunjukkan kedewasaan tata kelola aset dan anggaran yang mutlak diperlukan untuk status PTN-BH.

Ini adalah persiapan wajib (pre-condition) yang memakan waktu dan kredibilitas, sebelum melangkah ke fase penarikan investasi besar bagi dana abadi (endowment fund).

Tanpa tata kelola yang teruji dan kepemimpinan yang stabil di periode pertama, mimpi kemandirian finansial hanyalah utopia yang tidak akan pernah terwujud.

Kredibilitas ini adalah modal dasar yang tidak bisa diwariskan dalam semalam.

Menolak dua periode sering kali mengabaikan kurva implementasi transformasi yang panjang.

Mengubah kapal sebesar Unhas dari perahu kayu menjadi kapal induk riset tidak bisa diselesaikan dalam satu periode saja.

Tantangan terbesar Unhas ke depan adalah kematangan PTN-BH dan kemandirian keuangan yang sebenarnya, dan di sinilah kontinuitas menjadi sangat penting dan tidak terbantahkan.

Masa Pertama (2022–2025) adalah masa kritis dalam menanamkan fondasi regulasi, budaya kerja, dan pengaturan aset; modal sudah ditempatkan.

Masa Kedua (2026–2030) adalah masa pelaksanaan keuangan dan pemanenan dari modal tersebut: membangun dana abadi secara besar-besaran, melakukan komersialisasi inovasi, serta menandatangani kontrak riset multibillion dengan mitra global.

Proses penarikan dana besar dan negosiasi lisensi global membutuhkan kepercayaan dan stabilitas kepemimpinan yang telah terbukti sukses dalam periode sebelumnya.

Mengganti kapten saat kapal siap berlayar menuju keuntungan adalah tindakan bunuh diri strategis yang merusak momentum kepercayaan mitra, serta menunda potensi keuntungan selama beberapa dekade ke depan.

Selain itu, kebutuhan mendesak Integrasi visi dan eksekusi (Serka Tekap) tidak dapat ditunda.

Pemimpin yang visioner sekarang telah memberikan arah yang jelas dan visi yang kuat (thinking), namun Unhas saat ini membutuhkan konsistensi untuk menjaga budaya eksekusi.

Tim yang disebut Serka Tekap (Sekretariat Kerja Teknis Pelaksana) adalah jaminan kelanjutan bagi program-program utama.

Serka Tekap bukan hanya satuan, melainkan inkubasi budayakelincahanyang harus dilindungi dari intervensi politik.

Pengawalan Proyek Flagship, seperti pembangunan pusat trans-disipliner, kurikulum etika AI, dan program Desa Maritim Berdaya, memerlukan waktu, keahlian, dan yang terpenting, stabilitas kebijakan yang tidak boleh terputus.

Kepemimpinan yang berkelanjutan adalah jaminan stabilitas politik akademik, memastikan program kerja tidak terhenti akibat gejolak politik internal yang rentan terjadi setiap pergantian rezim.

Ini adalah jaminan bagi seluruh civitas akademika untuk fokus pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, bukan pada spekulasi perubahan kebijakan.

Menghentikan seorang pemimpin yang visioner setelah beliau menyelesaikan penebaran fondasi adalah pengkhianatan terhadap visi maritim Unhas.

Keputusan ini akan menghancurkan momentum pematangan riset, kemandirian finansial, dan pengakuan global yang telah susah payah dibangun, mengembalikan Unhas ke zona nyaman yang tidak produktif.

Oleh karena itu, data yang autentik menunjukkan bahwa kepemimpinan saat ini tidak hanya berhasil, tetapi juga mutlak diperlukan untuk terus berlanjut dalam memandu Unhas memasuki fase pemanenan, menjadikan Unhas benar-benar sebagai pelabuhan ilmu yang unggul, mandiri, dan bermartabat, di bawah komando sang nahkoda yang handal.(*)