PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU), yang merupakan emiten afiliasi dari Happy Hapsoro, baru-baru ini mengungkapkan perkembangan terkini mengenai rencana akuisisi hak partisipasi atau participating interest (PI) di blok minyak dan gas (migas). Dalam jangka panjang, perusahaan berupaya untuk melakukan transformasi bisnis menjadi operator blok migas, bukan hanya sekadar pemegang PI.

Saat ini, RATU dikabarkan sedang menjajaki beberapa peluang akuisisi PI di wilayah Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Timur. Namun, yang paling menonjol adalah Blok Kasuri di Papua Barat, yang telah disebutkan oleh manajemen sejak awal tahun ini saat RATU melakukan pencatatan saham pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Direktur Utama RATU, Sumantri, menyampaikan bahwa saat ini perusahaan secara aktif mencari potensi aset yang bisa diakuisisi. Meskipun ia tidak dapat memberikan informasi spesifik mengenai blok mana yang sedang dalam proses karena keterikatan dengan perjanjian kerahasiaan, ia memastikan bahwa RATU sedang meninjau aset-aset potensial yang layak untuk diakuisisi.

Beberapa rencana akuisisi saat ini dilakukan melalui proses negosiasi langsung dengan pemilik aset, serta skema tender yang dibuka secara terbuka. Sumantri menegaskan bahwa beberapa proses akuisisi yang menggunakan skema tender telah memasuki tahap akhir. Ia juga menyatakan bahwa pengumuman tender akan dilaksanakan dalam satu hingga dua pekan mendatang, sehingga RATU dapat memberitahukan ke publik.

“Kita sudah mengikuti tender, dan tender ini akan diumumkan dalam satu hingga dua minggu ini. Waktu terus bergerak, saya sebelumnya menyampaikan target kita akhir tahun ini, paling tidak kuartal pertama tahun depan, ada aset yang bisa kita akuisisi,” ujarnya.

Dalam hal strategi pendanaan, Sumantri menjelaskan bahwa pendanaan akan tergantung pada ukuran aset yang akan diakuisisi. Jika target akuisisi cukup moderat, RATU akan menggunakan sumber daya internal dan pinjaman bank. Namun, jika nilai aset terlalu besar dan berisiko mengganggu arus kas perseroan, RATU akan mempertimbangkan dua skema, yaitu menggandeng mitra atau menurunkan persentase akuisisi PI.

Direktur RATU, Adrian Hartadi, menyampaikan bahwa saat ini perseroan memiliki fleksibilitas dalam pendanaan ekspansi. Ia menjelaskan bahwa debt to equity ratio (DER) RATU pada kuartal III/2025 meningkat menjadi 0,20 kali, dari 0,39 kali pada kuartal II 2025. Hingga akhir September 2025, RATU memiliki aset sebesar US$66,3 juta, dengan liabilitas mencapai US$20,4 juta dan ekuitas sebesar US$45,8 juta.

“Artinya, kita masih bisa menarik pinjaman sampai US$164 juta jika DER mencapai 4. Jadi, untuk pendanaannya ini kita masih buka bank loan, itu yang masih ada ruang untuk expand,” kata Adrian.

Adrian juga menyatakan bahwa RATU tidak menutup kemungkinan untuk menerbitkan obligasi, meskipun kemungkinan besar akan dilakukan untuk membiayai ekspansi di tahun-tahun berikutnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur RATU Alexandra Sinta Wahjudewanti menjelaskan rencana transformasi RATU dalam 6-10 tahun ke depan. Perusahaan akan melakukan ekspansi investasi operasional ke product sharing contract (PSC) dengan skala produksi yang lebih besar.

Pada fase awal, 1-3 tahun, RATU lebih memprioritaskan ekspansi non-operating investment melalui akuisisi PI pada PSC berskala besar tanpa mengoperasikan aset. Saat ini, RATU memiliki dua portofolio blok migas yang memegang hak partisipasinya, yaitu 2,24% di Blok Cepu dan 8% di Blok Jabung.

Di jangka menengah, 3-5 tahun, setelah fase non-operating investment, RATU akan beralih ke investasi operasional dengan mengakuisisi PI pada PSC berproduksi skala lebih kecil dan mulai mengelola serta mengoperasikan aset secara langsung. Dengan demikian, dalam jangka panjang, RATU bertujuan untuk menjadi operator independen di sektor hulu migas.

“RATU memiliki visi menjadi perusahaan berfokus pada eksplorasi dan produksi migas yang memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan serta berkontribusi pada ketahanan energi nasional,” tutupnya.