Larry Ellison, pendiri Oracle yang kini berusia 81 tahun, menunjukkan komitmen besar dalam upaya akuisisi Paramount oleh Skydance. Jumlahnya mencapai sekitar 40,4 miliar dolar AS atau setara Rp675 triliun dengan kurs Rp16.740 per dolar AS. Langkah ini bukan hanya sekadar investasi bisnis, tetapi juga menggambarkan pergeseran dalam cara miliarder global melihat filantropi.

Perubahan dalam Filantropi

Ellison memberikan jaminan pribadi atas pembiayaan ekuitas dan utang dalam upaya Paramount mengakuisisi Warner Bros. Discovery. Jaminan tersebut disampaikan melalui dokumen resmi kepada regulator sekuritas Amerika Serikat. Ini menandai pergeseran dari filantropi konvensional menjadi model baru yang dikenal sebagai kapitalisme filantropis. Dalam pendekatan ini, kekayaan pribadi digunakan melalui mekanisme pasar untuk membentuk ulang sektor-sektor strategis seperti media dan teknologi.

Beberapa tokoh lain memiliki pendekatan berbeda dalam filantropi. Contohnya adalah MacKenzie Scott yang menyalurkan puluhan miliar dolar AS langsung kepada ribuan organisasi nonprofit. Sementara itu, Mark Zuckerberg menggunakan Chan Zuckerberg Initiative (CZI) untuk menggabungkan tujuan sosial dengan pendanaan riset ilmiah. Ellison, di sisi lain, memilih untuk menempatkan pengaruhnya pada infrastruktur inti yang membentuk produksi dan distribusi informasi global.

Keuntungan dan Kritik terhadap Pendekatan Ellison

Menurut analis ekonomi media, jaminan pribadi Ellison mencerminkan keyakinan bahwa kepemilikan studio, pustaka konten, dan platform distribusi lebih berdampak jangka panjang dibanding sekadar mendanai program-program sosial secara terpisah. Pandangan ini menegaskan pergeseran dari filantropi berbasis hibah menuju filantropi berbasis kendali struktural.

Namun, strategi ini juga memicu kritik. Seorang pengamat menyatakan bahwa Larry Ellison merupakan ancaman bagi jurnalisme dan demokrasi, karena risiko konsentrasi kepemilikan media di tangan segelintir miliarder dengan kekuatan modal nyaris tak terbatas.

Tantangan dalam Akuisisi Paramount

Meski demikian, upaya Paramount belum sepenuhnya mulus. Reuters melaporkan bahwa dewan direksi Warner Bros. Discovery masih menolak tawaran tersebut dan mempertimbangkan proposal alternatif, termasuk dari Netflix. Penolakan ini berkaitan dengan struktur pembiayaan serta potensi implikasi konsolidasi media global, yang menjadi perhatian utama regulator dan pemegang saham.

Masa Depan Filantropi dan Bisnis

Langkah Ellison memperjelas satu hal: bagi sebagian miliarder era teknologi, filantropi tidak lagi berhenti pada yayasan atau donasi sosial. Pendekatan ini kini diwujudkan melalui akuisisi, pengelolaan neraca keuangan, dan penguasaan industri. Model ini mengaburkan batas antara memberi, berinvestasi, dan membentuk arah ekonomi global.

Dalam konteks ini, komitmen Rp675 triliun Ellison bukan semata soal Paramount atau ambisi keluarga. Skala dan arah langkah tersebut mencerminkan kecenderungan baru di kalangan mogul teknologi, ketika mekanisme kapitalisme—melalui investasi dan akuisisi—diposisikan sebagai sarana pembentukan dampak sosial.