Perayaan Haul Guru Sekumpul 2025: Tradisi yang Tetap Dihormati

Haul Guru Sekumpul adalah momen penting dalam kalender keagamaan masyarakat Kalimantan Selatan. Tahun ini, perayaan Haul Guru Sekumpul 2025 akan dilaksanakan pada malam Minggu, 28 Desember 2025. Namun, berdasarkan tradisi dan perhitungan kalender Hijriah, Haul Guru Sekumpul biasanya jatuh pada tanggal 5 Rajab. Pada tahun 2025, tanggal 5 Rajab bertepatan dengan 25 Desember 2025. Oleh karena itu, pelaksanaan Haul Guru Sekumpul dianggap sebagai momen istimewa.

Tahun 2025 terasa lebih spesial karena Haul Guru Sekumpul akan dilaksanakan dua kali. Hal ini disebabkan oleh perbedaan penghitungan antara kalender Masehi dan Hijriah. Pada tahun 2025, Haul Guru Sekumpul pertama dilaksanakan pada 5 Rajab 1446 Hijriah, yaitu pada hari Minggu, 5 Januari 2025. Sementara Haul kedua akan dilaksanakan pada 5 Rajab 1447 Hijriah, yang jatuh pada 25 Desember 2025. Meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai pelaksanaan Haul kedua, diperkirakan akan dilakukan bersamaan dengan pengajian rutin Minggu malam.

Sejarah dan Perjalanan Hidup Abah Guru Sekumpul

KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih dikenal sebagai Abah Guru Sekumpul atau Guru Ijai adalah tokoh ulama besar di Kalimantan Selatan. Nama lengkapnya adalah Muhammad Zaini Abdul Ghani al-Banjari. Ia lahir pada tanggal 11 Februari 1942 di Desa Tunggul Irang, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ia memiliki silsilah keluarga yang sangat panjang dan bermartabat, turunan dari Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, seorang ulama besar Banjar.

Abah Guru Sekumpul dikenal luas karena keilmuannya dalam bidang agama Islam, kepemimpinan dalam pendidikan, serta kontribusinya dalam membentuk masyarakat yang religius dan berbudaya. Ia juga aktif dalam bimbingan spiritual dan sosial di lingkungan masyarakat. Karena kiprahnya yang luar biasa, ia memiliki banyak pengikut dan jemaah semasa hidupnya.

Profil Keluarga dan Silsilah Abah Guru Sekumpul

Menurut laman laduni, Abah Guru Sekumpul lahir dengan nama Qusyairi, namun kemudian diganti menjadi Muhammad Zaini Abdul Ghani karena sering sakit. Ia adalah keturunan ke-8 dari Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari. Berikut silsilah keluarganya:

  • Muhammad Zaini adalah putra dari Abdul Ghani
  • Cucu dari Abdul Manaf
  • Buyut dari Muhammad Seman
  • Cicit dari Muhammad Sa’ad
  • Canggah dari Abdullah
  • Buyut dari Mufti Muhammad Khalid
  • Cicit dari al-Alim al-Allamah al-Khalifah Hasanuddin
  • Canggah dari Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari

Perjalanan Hidup dan Kontribusi Abah Guru Sekumpul

Ketika masih kecil, Abah Guru Sekumpul tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Ia diajarkan tentang kedisiplinan dalam pendidikan tauhid, akhlak, dan membaca Al-Quran. Ia juga mendapat bimbingan dari pamannya, Syekh Seman Mulia, yang memperkenalkannya kepada tokoh-tokoh Islam terkenal seperti al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Abah Guru Sekumpul diberi amanah untuk mengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Beliau direkomendasikan oleh beberapa tokoh agama untuk menjadi pengajar di sana. Beberapa tahun kemudian, ia memutuskan untuk berhenti dan mulai melakukan kegiatan dakwah dengan membuka pengajian di rumahnya di Keraton Martapura.

Pengajian ini awalnya ditujukan untuk mendukung pembelajaran para santri di pondok pesantren tersebut. Namun, seiring waktu, jumlah jemaah semakin meningkat dan bervariasi. Pengajian pun berkembang pesat dengan penambahan kitab-kitab yang lebih bervariasi, termasuk fikih, tasawuf, tafsir, dan hadis. Abah Guru Sekumpul juga memperkenalkan Maulid al-Habsyi atau Simthud Durar karya al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi.

Lokasi Pengajian dan Kematian Abah Guru Sekumpul

Akibat peningkatan jumlah jemaah, Abah Guru Sekumpul memutuskan untuk beralih ke lokasi baru. Pada tahun 1980-an, ia memilih wilayah Sungai Kacang sebagai tempat tinggal dan pengajian barunya. Komplek rumahnya diberi nama “Komplek Ar-Raudhah,” yang terinspirasi dari nama Ar-Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah.

KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul meninggal dunia pada 10 Agustus 2005 di usia 63 tahun. Ia dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, karena sakit ginjal. Makamnya berada di kompleks pemakaman keluarga dekat dengan Musala Ar Raudhah, Sekumpul, Martapura Kalimantan Selatan. Musala ini menjadi pusat kegiatan Haul Abah Guru Sekumpul yang diperingati setiap tahunnya dengan selalu dihadiri jutaan jemaah.