Ritual Thetek Melek Kembali Digelar di Pacitan
Ritual adat Thetek Melek kembali digelar di Pacitan akhir tahun ini, menandai kembalinya tradisi yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat. Ritual yang dilaksanakan setiap tahun ini menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan antara manusia dan alam agraris. Prosesi ini tidak hanya berupa upacara sakral, tetapi juga menjadi wadah ekspresi seni dan partisipasi komunal.
Di hamparan sawah Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, ritual Thetek Melek kembali diselenggarakan dengan penuh khidmat. Rombongan warga, seniman, serta pemimpin daerah hadir dalam prosesi yang dipimpin langsung oleh Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji. Mereka membawa berbagai persembahan seperti opyak-opyakan hama, yang kemudian ditempatkan sebagai tumpeng.
Selain itu, terdapat serombongan warga lain yang mengiringi prosesi dengan tetabuhan unik. Mereka berjalan melewati pematang sawah sambil membawa bongkok (pelepah kelapa) yang bolong. Bongkok tersebut selanjutnya diserahkan kepada Mbah Lurah (Kepala Desa Sukoharjo) untuk ditancapkan di tanah. Aktivitas ini diikuti oleh warga lain yang turut menancapkan bongkok di seluruh pematang sawah.
Setelah prosesi inti selesai, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni yang menarik. Salah satu yang menonjol adalah pertunjukan Kiblat Papat Limo Pancer dan tari orang-orangan sawah. Pertunjukan ini merupakan karya dari Bupati Pacitan, Mas Aji, yang ingin menampilkan kekayaan budaya lokal melalui seni.
Tradisi Turun Temurun yang Bersejarah
Thetek Melek bukan sekadar ritual biasa, tetapi merupakan tradisi turun temurun yang telah lama dijalankan di Pacitan. Tujuan utamanya adalah untuk mengusir pagebluk atau penyakit yang pernah menghancurkan masyarakat. Meski sempat terhenti saat wabah Covid-19 melanda, ritual ini kembali digelar pada 2022 dan terus berlangsung hingga saat ini.
Bupati Pacitan, Mas Aji, menyampaikan bahwa melalui ritual ini diharapkan tumbuh nilai-nilai kosmologis dan praktik komunal yang melekat pada ritual tersebut. “Mudah-mudahan semua yang kita lakukan ini bisa memberi manfaat kepada kita semua dan apa yang kita tanam akan berkah,” ujarnya.

Ritual yang Lebih Dari Sekadar Seremonial
Menurut Bupati Pacitan, ritual Thetek Melek bukan hanya sekadar seremonial. Ia juga menjadi bentuk doa dan ikhtiar bersama untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. Tujuannya adalah agar alam senantiasa bersahabat dengan para petani.
Tahun ini, gelaran Thetek Melek memiliki ciri khas tersendiri. Selain prosesi inti instalasi hama, ada berbagai kegiatan pendukung yang menambah keunikan acara. Misalnya, festival budaya, jagong tani, aksi melukis seribu bongkok, serta pasar UMKM yang turut menggerakkan perekonomian warga sekitar.
Puncak dari ritual ini adalah doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa setempat. Warga yang hadir kemudian berkumpul untuk makan bersama, mencerminkan kebersamaan dan solidaritas yang tinggi. Melalui acara ini, masyarakat Pacitan tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan budaya yang sudah ada sejak dahulu.

Tinggalkan Balasan