Kondisi Darurat di Aceh: Rasa Putus Asa dan Kurangnya Bantuan
Masyarakat Aceh mengalami kesulitan berat akibat bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu. Banjir dan tanah longsor telah mengakibatkan sejumlah wilayah tergenang air hingga jembatan putus. Jalur utama antara Medan dan Banda Aceh juga masih dalam kondisi tidak layak dilewati, memperparah isolasi warga.
Di tengah situasi kritis ini, masyarakat terus menunggu kehadiran pemerintah untuk memberikan bantuan. Salah satu daerah yang mengalami dampak terberat adalah Kabupaten Aceh Tengah. Warga setempat mengaku belum menerima bantuan logistik apa pun. Aramiko, salah satu warga setempat, menyampaikan perasaan putus asa dengan kalimat yang menyentuh hati.
“Sepertinya sekarang kami tidak butuh bantuan makanan lagi. Kirim kami kain kafan saja,” ucapnya lirih. Stok makanan semakin menipis, membuat rasa putus asa semakin meluas. Meskipun terisolir, warga tetap berupaya mandiri untuk bertahan hidup dan membuka akses.
Beberapa upaya dilakukan, seperti membangun landasan pacu darurat dan menyumbangkan BBM dari kendaraan pribadi mereka untuk menghidupkan genset. Namun, ironisnya, warga Pantan Nangka sering melihat helikopter yang diduga membawa bantuan terbang melintasi langit mereka. Sayangnya, tidak ada satu pun helikopter tersebut yang turun di landasan yang telah disiapkan.
Aramiko juga mengungkapkan kondisi miris yang dialami oleh masyarakat, terutama kelompok rentan. “Banyak orang tua di sini yang terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer ke Aceh Tengah hanya untuk mendapatkan susu. Banyak juga ibu hamil yang nasibnya tidak jelas,” katanya.
Akses utama ke pusat kota terputus total akibat longsoran dan banjir. Saat ini, satu-satunya jalur yang bisa digunakan adalah jalur darurat roda dua yang dibuat sendiri di titik longsor, hanya cukup untuk dilewati sepeda motor. Akibat isolasi dan lambatnya bantuan, tingkat keputusasaan di kalangan warga mencapai puncaknya.
Data Terbaru Korban Bencana Sumatra
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru jumlah korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra pada Jumat (5/12/2025). Bencana yang terjadi sejak 25 November 2025 lalu telah merenggut 867 jiwa. Sebanyak 521 orang hilang dan lebih dari 4.200 warga luka-luka.
Dari total tersebut, jumlah korban meninggal terbanyak berasal dari Provinsi Aceh, yakni 345 jiwa. Wilayah terbanyak korban meninggal berada di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, yakni 156 jiwa. Sementara jumlah korban meninggal sebanyak 210 jiwa.
Di Sumatra Utara, korban meninggal berjumlah 312 orang. Kabupaten/Kota terbanyak yang menelan korban jiwa berada di Tapanuli Tengah (Tapteng) yakni 89 orang. Data tersebut diketahui berdasarkan situs dashboard penanganan bencana darurat banjir dan longsor di Aceh, Sumut, Sumbar, pada Jumat (5/12/2025), pukul 17.40 WIB.
Rincian Korban Meninggal di Sumatra Utara (Sumut)
- Korban tewas: 312 orang
- Orang hilang: 133 orang
- Terluka: 652 orang
Rincian korban meninggal:
– Tapanuli Tengah: 89 orang
– Tapanuli Utara: 34 orang
– Tapanuli Selatan: 84 orang
– Kota Sibolga: 52 orang
– Humbang Hasundutan: 9 orang
– Deli Serdang: 17 orang
– Kota Medan: 12 orang
– Langkat: 11 orang
Rincian Korban Meninggal di Sumatra Barat (Sumbar)
- Korban meninggal: 210 orang
- Orang hilang: 214 orang
- Terluka: 112 orang
Rincian korban meninggal:
– Agam: 156 orang
– Kota Padang Panjang: 19 orang
– Padang Pariaman: 21 orang
– Kota Padang: 11 orang
– Pasaman Barat: 3 orang
Rincian Korban Meninggal di Aceh
- Korban meninggal: 345 jiwa
- Orang hilang: 174 orang
- Terluka: 3.5 ribu jiwa
Rincian korban meninggal:
– Bener Meriah: 34 orang
– Aceh Tenggara: 13 orang
– Aceh Tengah: 22 orang
– Aceh Timur: 41 orang
– Aceh Utara: 124 orang
– Aceh Tamiang: 48 orang
– Pidie Jaya: 27 orang
– Bireuen: 20 orang
– Kota Langsa: 5 orang
– Gayo Lues: 4 orang
– Kota Lhokseunawe: 4 orang

Tinggalkan Balasan